Suatu siang ditanggal 13 Juni 2017, ketika aku keluar dari area kampus UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta hendak pulang ke kostku di daerah Sorowajan, di tengah perjalanan
tiba-tiba hatiku tergerak untuk mampir
di toko buku SAB. Setelah memarkirkan motor di parkiran, aku langsung bergegas
masuk ke dalam toko untuk melihat-lihat buku apa saja yang terbaru. Ketika
asyik berjalan sambil mengamati buku-buku yang berjejer dengan rapi di rak,
tiba-tiba langkahku terhenti di depan sebuah buku yang memiliki cover seperti
komik. ‘Kiai Kocak VS Liberal’ judul buku tersebut. Setelah membaca
sinopsisnya, tanpa berpikir panjang, langsung ku bawa buku ini menuju kasir dan
ku beli buku ini seharga Rp. 28.000. Lalu aku menuju motor dan menghidupkan
mesinnya sambil memberikan uang pecahan 2000 rupiah kepada tukang parkir yang sedang
berjaga disana. Setelah keluar dari pekarangan toko buku, kuarahkan sepeda
motorku menuju kostku yang sederhana.
Sesampai di kost, kubuka kembali buku yang baru saja ku beli, ku
lihat penulis buku tersebut bernama Abdul Mutaqin, seorang alumni Fakultas
Tarbiyah IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 1999. Buku ini
diterbitkan oleh penerbit Salsabila Pustaka Al-Kautsar Group tahun 2016. Buku
ini berisi tulisan-tulisan pendek seperti esai yang terdiri dari 34 sub judul.
Masing-masing sub judul hanya membahas satu pokok bahasan mengenai percakapan
antara kiai Adung (kiai yang kocak) dengan para penganut paham sepilis
(sekularisme, pluralisme dan liberalisme). Jika kita petakan, terdapat pembahasan
mengenai pluralisme, gender, perkawinan sesama jenis (homo dan lesbian), kota
islami, kebenaran relatif (ingin membenarkan teori evolusi darwin), ateis, dll.
Diantara sekian banyak pembahasan didalam buku tersebut, secara
garis besar buku ini berbicara tentang :
1.
Pluralisme
Pro : Logika yang dibangun oleh kaum sepilis ialah semua agama
benar dan masing- masing agama merupakan jalan menuju satu Tuhan, perbedaannya
hanya dalam penyebutan nama Tuhan. Kebenaran bukan hanya milik Islam saja,
kebenaran ada di mana-mana. Harus toleran dengan pemeluk agama lain dengan
mengakui kebenaran agama mereka.
Kontra :Hanya Islam yang benar sesuai ayat Al-Qur’an “Inna diina
indallahil Islam”. Toleran itu dengan cara tidak menggangu umat beragama lain
didalam menjalankan kehidupan sehari-hari didalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Jika semua agama sama, kenapa sepilis tidak mengubah-ubah agama
mereka dan penyebutan nama tuhannya, misalnya hari ini sholat dengan takbir
berlafah yesushu akbar/yahwehuakbar, atau hari ini islam, besok, kristen, besok
budha dan seterusnya.
2.
Perkawinan sejenis
Pro
: Perkawinan sejenis merupakan HAM. Manusia itu dinilai ketaqwaannya, bukan
orientasi seksnya. Tidak ada ayat didalam Al-Qur’an yang melarang untuk kawin
sejenis. Jika Allah melarang homo atau lesbi, kenapa malah diciptakan nafsu
homo dan lesbi.
Kontra
:Sepilis yang memperjuangkan pelegalan perkawinan sejenis diminta untuk kawin
sejenis, jika ada keluarganya yang ingin kawin sejenis, harus dipersilahkan
oleh aktivis sepilis, ini merupakan cara untuk melawan argumentasi kaum sepilis.
Jika masalah nafsu homo dan lesbi yang diciptakan Allah, Allah juga menciptakan
babi lalu mengharamkannya, berarti babi tidak baik untuk manusia dan juga
pengharaman babi juga menjadi ‘cobaan’ bagi manusia apakah manusia tersebut
menaati perintah Allah atau mengingkarinya
3.
Gender
-
Pemakaian kata “Laki-laki qawwam
(pemimpin) bagi perempuan” untuk menenpatkan perempuan dalam subordinasi.
-
Laki-laki dan perempuan memiliki
kodrat yang berbeda, emang bisa perempuan melakukan pekerjaan laki-laki seperti
manjat pohon kelapa?
4.
Singapura dianggap lebih Islami dari
pada Indonesia
-
Ukuran islaminya ialah kebersihan,
sedangkan kebersihan ialah ajaran Islam.
-
Kebersihan itu universal, untuk
menjadi bersih, ateis juga bisa. Singapura juga memiliki tempat perjudian dan
pelacuran, lalu itu dikatakan islami?
Selain dari poin-poin
diatas, masih terdapat pokok pembahasan lainnya yang memuat percakapan antara
penganut sepilis dan kiai adung. Wallahu A’lam bishowab
Yogyakarta, 01 Juli 2017 Pukul 00.21
