HOME

Minggu, 04 Juni 2017

MINIMALISIR KEMISKINAN MELALUI AGAMA

Salah satu faktor tingginya tingkat kriminalitas di Indonesia ialah karena kemiskininan. Orang bisa melakukan pencurian jika perutnya sedang kelaparan, tega membegal dan membunuh asalkan tetap bisa makan. Dapat melakukan apa saja yang dapat merugikan orang lain asalkan perut tetap terisi. Sudah banyak kasus yang membuktikan bahwa lebih baik melakukan kejahatan asalkan dapat makan. Himpitan ekonomi menjadi faktor terbesar yang menjadi penyebab kejahatan tersebut.
Amat sangat disayangkan jika hal tersebut terjadi di bumi nusantara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Bahkan Indonesia diibaratkan sebagai tanah sorga, seperti lirik lagu yang berbunyi “Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Lagu tersebut seolah-olah menggambarkan betapa kaya dan suburnya tanah indonesia.
Akan tetapi, kekayaan alam yang dimiliki bumi pertiwi tersebut berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat pribumi.  Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen).
Angka kemiskinan tersebut selalu merangkat naik setiap tahunnya. Selama periode September 2014–Maret 2015, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015), sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September 2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015). Hal tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan bertambah banyak setiap harinya. Ini yang kemudian menjadi PR kita bersama untuk meminimalisir angka kemiskinan tersebut.
Ketidakmerataan dan penumpukan harta yang terjadi pada sebagian orang saja juga terjadi di Indonesia. Sebagaimana yang dilansir dari dw.com, lembaga Oxfam menyatakan kekayaan empat milyader terkaya di nusantara, tinggi dari total kekayaan 40 persen penduduk  miskin – atau sekitar 100 juta orang. Indonesia masuk dalam enam besar negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia. Pada tahun 2016, satu persen orang terkaya memiliki hampir setengah (49 persen) dari total kekayaan populasi. 
Hal ini menjadi permasalahan serius bagi bangsa Indonesia. Karena apabila dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya tindakan untuk meminimalisir kesenjangan tersebut, sama saja kita sedang menyulut bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Karena jika kemiskinan merajalela, maka tingkat kriminalitas akan menjadi tinggi. Dengan demikian, indonesia akan menjadi negara yang tidak aman lagi.
Barangkali salah satu cara untuk meminimalisir kesenjangan yang ada ialah kembali menerapkan syariat islam berupa zakat didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun umat muslim sebagai penduduk mayoritas di Indonesia sudah menerapkan zakat fitrah setiap tahun menjelang idul fitri, akan tetapi hal tersebut belum banyak membantu mengurangi kemisikinan secara massif.
            Perlu diterapkannya zakat mal (harta) di indonesia sehingga harta tidak hanya tertumpuk pada segelintir orang saja. Setiap bulannya kelebihan harta yang dimiliki orang-kaya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar