Salah satu faktor tingginya tingkat
kriminalitas di Indonesia ialah karena kemiskininan. Orang bisa melakukan
pencurian jika perutnya sedang kelaparan, tega membegal dan membunuh asalkan
tetap bisa makan. Dapat melakukan apa saja yang dapat merugikan orang lain
asalkan perut tetap terisi. Sudah banyak kasus yang membuktikan bahwa lebih
baik melakukan kejahatan asalkan dapat makan. Himpitan ekonomi menjadi faktor
terbesar yang menjadi penyebab kejahatan tersebut.
Amat sangat disayangkan jika hal
tersebut terjadi di bumi nusantara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah
ruah. Bahkan Indonesia diibaratkan sebagai tanah sorga, seperti lirik lagu yang
berbunyi “Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat, kayu dan batu jadi
tanaman”. Lagu tersebut seolah-olah menggambarkan betapa kaya dan suburnya
tanah indonesia.
Akan tetapi, kekayaan alam yang
dimiliki bumi pertiwi tersebut berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat
pribumi. Data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) menyebutkan bahwa pada
bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per
kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta
orang (11,22 persen).
Angka kemiskinan tersebut selalu merangkat naik setiap
tahunnya. Selama periode September 2014–Maret 2015, jumlah penduduk miskin di
daerah perkotaan naik sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada
September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015), sementara di daerah
perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September
2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015). Hal tersebut menunjukkan bahwa
kemiskinan bertambah banyak setiap harinya. Ini yang kemudian menjadi PR kita
bersama untuk meminimalisir angka kemiskinan tersebut.
Ketidakmerataan dan penumpukan harta yang terjadi pada
sebagian orang saja juga terjadi di Indonesia. Sebagaimana yang dilansir dari
dw.com, lembaga Oxfam menyatakan kekayaan empat milyader terkaya di
nusantara, tinggi dari total kekayaan 40 persen penduduk miskin – atau
sekitar 100 juta orang. Indonesia masuk dalam enam besar negara dengan tingkat
kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia. Pada tahun 2016, satu persen orang
terkaya memiliki hampir setengah (49 persen) dari total kekayaan populasi.
Hal ini menjadi permasalahan serius bagi bangsa
Indonesia. Karena apabila dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya tindakan untuk
meminimalisir kesenjangan tersebut, sama saja kita sedang menyulut bom waktu
yang bisa meledak kapan saja. Karena jika kemiskinan merajalela, maka tingkat
kriminalitas akan menjadi tinggi. Dengan demikian, indonesia akan menjadi
negara yang tidak aman lagi.
Barangkali salah satu cara untuk meminimalisir
kesenjangan yang ada ialah kembali menerapkan syariat islam berupa zakat didalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun umat muslim sebagai penduduk
mayoritas di Indonesia sudah menerapkan zakat fitrah setiap tahun menjelang
idul fitri, akan tetapi hal tersebut belum banyak membantu mengurangi
kemisikinan secara massif.
Perlu
diterapkannya zakat mal (harta) di indonesia sehingga harta tidak hanya
tertumpuk pada segelintir orang saja. Setiap bulannya kelebihan harta yang
dimiliki orang-kaya
